Ku akui ke-culas-an mucikari telah membawamu pada titik kritis! Menjadikan dirimu sebagai alat untuk meramaikan rumah bordilnya! mereka merusak tatanan nilai yang telah kau bangun, menstimulasi tubuh-mu agar engkau mampu mengadaptasi semua sentuhan laki-laki! Menyentuh semua titik pada tubuh yang selama ini kau jaga, kau Hormati. Mucikari telah mengantar-mu di dunia yang tidak adil bagi semua perempuan. Mereka telah merampas , harkat dan martabat manusia hanya untuk kepentingan bisnis mereka semata!
Nona, Dahulu, dalam isak tangis-mu, engkau membisikan kepadaku;
Bahwa engkau dilahirkan dari keluarga sederhana, miskin, dan ketika dua orang asing mendatangi rumah-mu, menawarkan pekerjan, hati-mu berbunga. Ada setitik harapan untuk memperkuat posisi ekonomi keluarga. Engkau meninggalkan rumah atas restu dari ibu dan bapak, karena ada jaminan dari orang yang membawa-mu. Mereka mengatakan bahwa, nona akan dipekerjakan pada sebuah restoran, dan sebagai tanda itikad baik, bukti bahwa mereka adalah orang jujur, mereka menyerahkan gaji pertama-mu kepada orangtua-mu. Tiga ratus ribu rupian untuk pekerjaan satu bulan? wow, ini adalah sebuah kebanggaan bagi perempuan lulusan sekolah dasar.
Tika, mekarnya bunga harapan tidak hanya ada di ladang hatimu, karena kedua orangtua-mu telah bercerita dengan bangga kepada sanak saudara dan tetangga bahwa engkau telah menjadi juru selamat ekonomi rumah tangga!
Patah, gugur, hilang dan musnah semua harapan! pasangan suami istri yang datang menjemputmu dari rumah orangtua-mu, menukarkan-mu dengan uang sejumlah dua juta rupiah!
Tangisan dan perlawanan yang engkau berikan, tidak meluluhkan hati mucikari untuk memilikimu, mereka sepakat menjadikan-mu sebagai mesin pencari uang. Dan kemudian engkau mengatakan bahwa;
"Aku datang di kota ini untuk bekerja sebagai pelayan restoran! mati pun aku mau, asalkan kesucian diri ini selamanya menjadi miliku." Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir "tuan" yang telah menjadikan-mu budaknya. justru langkah ringan "nyonya" menuju kamarnya, mengambil segelas air.
"Aku mengerti keinginan-mu, sehingga aku pun setuju untuk semua keinginan-mu. Setelah hari ini, engkau boleh kembali ke rumah orangtua-mu. Tapi Minumlah ini agar engkau merasa lebih tenang," sembari menyodorkan segelas air yang sudah di beri mantera oleh dukun.
Setelah melihatmu meneguk air pemberian istrinya, "tuan" mucikari pun menanyakan lagi keinginanmu.
"Bagaimana nak? apakah engkau tetap ingin pulang? bila ya? saya bisa mengaturnya, bapak akan mengantarmu, kapan pun engkau mau!"
Nona, Dahulu, dalam isak tangis-mu, engkau membisikan kepadaku;
Bahwa engkau dilahirkan dari keluarga sederhana, miskin, dan ketika dua orang asing mendatangi rumah-mu, menawarkan pekerjan, hati-mu berbunga. Ada setitik harapan untuk memperkuat posisi ekonomi keluarga. Engkau meninggalkan rumah atas restu dari ibu dan bapak, karena ada jaminan dari orang yang membawa-mu. Mereka mengatakan bahwa, nona akan dipekerjakan pada sebuah restoran, dan sebagai tanda itikad baik, bukti bahwa mereka adalah orang jujur, mereka menyerahkan gaji pertama-mu kepada orangtua-mu. Tiga ratus ribu rupian untuk pekerjaan satu bulan? wow, ini adalah sebuah kebanggaan bagi perempuan lulusan sekolah dasar.
Tika, mekarnya bunga harapan tidak hanya ada di ladang hatimu, karena kedua orangtua-mu telah bercerita dengan bangga kepada sanak saudara dan tetangga bahwa engkau telah menjadi juru selamat ekonomi rumah tangga!
Patah, gugur, hilang dan musnah semua harapan! pasangan suami istri yang datang menjemputmu dari rumah orangtua-mu, menukarkan-mu dengan uang sejumlah dua juta rupiah!
Tangisan dan perlawanan yang engkau berikan, tidak meluluhkan hati mucikari untuk memilikimu, mereka sepakat menjadikan-mu sebagai mesin pencari uang. Dan kemudian engkau mengatakan bahwa;
"Aku datang di kota ini untuk bekerja sebagai pelayan restoran! mati pun aku mau, asalkan kesucian diri ini selamanya menjadi miliku." Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir "tuan" yang telah menjadikan-mu budaknya. justru langkah ringan "nyonya" menuju kamarnya, mengambil segelas air.
"Aku mengerti keinginan-mu, sehingga aku pun setuju untuk semua keinginan-mu. Setelah hari ini, engkau boleh kembali ke rumah orangtua-mu. Tapi Minumlah ini agar engkau merasa lebih tenang," sembari menyodorkan segelas air yang sudah di beri mantera oleh dukun.
Setelah melihatmu meneguk air pemberian istrinya, "tuan" mucikari pun menanyakan lagi keinginanmu.
"Bagaimana nak? apakah engkau tetap ingin pulang? bila ya? saya bisa mengaturnya, bapak akan mengantarmu, kapan pun engkau mau!"
No comments:
Post a Comment