Sunday, 14 September 2014

Senyum-ku adalah Duka-ku 1 (My smile is my Sorrow) #truestory


 Dan aku sudah masuk untuk melihat isi  kamarmu. Ada wangi parfum yang  menguap lembut  dari dalam lemari  pakaianmu, menusuk masuk dalam ruang hidungku. Aku  hafal betul dari mana engkau mendapatkan parfum semacam itu. Karena tiga minggu lalu kita sudah  bertemu di pasar malam. Aku ingat saat itu engkau mengenakan gaun santun, berjalan dengan tatapan mata, lurus,  maju. Tidak  ada seorang laki-laki pun yang berani   menggodamu.

Dan mereka yang pernah masuk kamarmu, hanya memberikan sedikit lirikan mengiringi langkah kakimu. Mereka tidak mau menyapa-mu mungkin karena malu ataukah takut  derajatnya jatuh?

Hari ini aku datang lagi, aku ingin menemuimu. Namun kamarmu terkunci rapi. Mucikari-mu datang mendekatiku dan mengatakan bahwa engkau masih melayani tamu penting! Seorang Tokoh yang disegani karena mempunyai pangkat dan  kedudukan tinggi di kota ini? Aku tidak peduli tentang siapa yang berada di kamar bersamamu. Karena tugasku hari ini adalah membagikan pelicin dan kondom pesanan-mu. Malam sudah larut, aku tak sabar lagi menunggumu. Ketika jemari-ku menyentuh pintu kamar-mu,  mucikari mengusir aku dan mengatakan sekali lagi bahwa engkau tengah melayani tamu penting!

 Menjelang pagi,  tamu penting  pamit. Di wajahnya aku melihat ada keriangan dan balutan senyum.

Tanpa ada pertanyaan, namun  mulutnya sudah berkata bahwa engkau sangat menikmati bermain cinta dengan dia. Dan sekarang tugas pelayanan-mu sudah selesai. Lalu mengapa matamu masih menyimpan sembab? Engkau bungkam tanpa kata! dan aku pun tidak ingin menanyakan tentang apa yang engkau rasakan.  Akan tetapi?

Tekanan tanganmu di pundakku seakan memberikan isyarat bahwa engkau akan berbagi beban? Betulkah begitu? Ya? Ya, suaramu lemah, namun aku telah mendapatkan pesan. Teruslah bercerita karena aku akan selalu setia mendengarkannya.

Oooogh luar biasa, ternyata dalam duka engkau masih bisa tertawa. Bagaikan seorang penyanyi yang  berdendang di  dalam kegelapan malam, aku hanya mendengarkan  suaranya merdu  akan tetapi tidak bisa melihat  ekspresi wajah yang sebenarnya.

Sia-sia aku menggali rahasiamu karena ternyata  engkau tidak pernah mampu beradaptasi atas semua sentuhan tanpa cinta. Luka hatimu sudah engkau bungkus rapi dalam senyum penuh arti.










No comments:

Post a Comment