Gadis kecil, menjelang pagi kita berpapasan di salah satu ruas jalan pertokol di kota ini. Kalau boleh aku tahu, dimana rumahmu, siapa orangtuamu? lalu mengapa warna rambutmu tidak seperti aku atau juga orang-orang di sekitarmu? Tidak takutkah engkau pada angin malam sehingga engkau mau mengenakan busana minim? Tadi, secara tidak sengaja aku melihat warna pakaian dalammu. Lalu mengapa engkau tidak segera menutupinya ataukah menepis tangan laki-laki yang dengan sengaja menyingkapkan rokmu?
Sebenarnya aku merasa tertantang untuk menghujat perlakuan laki-laki nakal yang telah mempermalukanmu. Mengepalkan tinju terbaikku, memukul untuk merobohkan laki-laki tersebut sehingga ia tidak sadarkan diri. Dan apabila teman-temannya datang membela, aku pun melakukan hal yang sama terhadap mereka semuanya. Namun hati kecilku melarang, karena yang aku lihat kau telah menyambut ramah sentuhan mereka. Dan dengan demikian Aku pun sadar bahwa sebenarnya lingkunganmu sudah memaksamu untuk secara instan beradaptasi terhadap sentuhan nakal. Dan ini artinya pembelaan yang aku berikan padamu adalah sia-sia belaka!
Gadis kecil, aku tahu engkau lemah! Engkau jatuh! Dan sekarang engkau sakit! Karena, ketika engkau kembali ke rumah, palu penghakiman akan datang dari keluarga atau pun masyarakat sekitar, mereka semua menyebutmu sebagai anak nakal.
Orangtuamu, tidak akan pernah mengakui bahwa mereka salah, telah melakukan pembiaran, atau mengabaikan hak-hakmu sebagai anak. walau sebenarnya mereka tidak pernah mampu menjadi sahabatmu. Mereka melarang namun tidak mampu menjelaskannya. Tumbuh kembangmu sepenuhnya diserahkan kepada alam.
Dan kini kau telah nyaman berada diantara laki-laki, "sahabat-sahabat" semu!
Ini artinya Negara ini telah kehilangan salah satu bakal pemimpinnya
No comments:
Post a Comment