Aku lelah untuk mengatasi sejuta masalah yang terus berdatangan padaku selama ini. Aku ingin keluar dari masalahku, aku ingin menjadi manusia baru, hidup dengan hati yang damai sehingga aku tidak akan menipu diriku lagi. Itu saja yang aku inginkan! Karena sejak masa kanak kanak sampai hari ini aku senantiasa menghibur mereka yang telah merusak hidupku. Aku selalu mampu tersenyum ramah menyambut tangan yang melukai hatiku.
Aku di lahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Usia dua bulan nenek dan ibuku membawaku ke Surabaya. Ibu tidak bisa tinggal di kota asalnya karena sebuah alasan yang sampai saat ini menjadi sebuah pertanyaan besar di kepalaku. Di Surabaya, kami bertiga tinggal dalam sebuah rumah kontrakan.
Pada usia lima tahun, rumah kecil kami didatangi tiga penghuni baru, dua orang gadis dan satu orang pemuda. Nenek dan ibu mengenalkan padaku bahwa mereka semuanya adalah kakakku? Aku sangat senang karena dengan hadirnya tiga orang kakak ini setidaknya aku mendapatkan teman untuk bermain. Dari semua kakak-kakakku, ada satu orang kakak yang paling aku sukai. Dia pandai menyenangkan hatiku, karena setiap kali pulang kerja, dia selalu membawakan permen ataupun kue kesukaanku. Merasa mendapatkan perhatian lebih dari kakak, aku pun menjadi lebih dekat dengannya. Ketika kakak mengajakku bermain di dalam kamar, memeluk dan menciumi tubuhku, aku pun menyambutnya dengan hangat. Namun setelah tangan kakak masuk ke dalam celanaku, aku pun menepis tangannya. Aku masih ingat sekali ketika pertama kali tangan kakak menyentuh bagian tubuhku yang sangat sensitif. Dan sejak saat itu aku mulai menjaga jarak dengan kakak. Setiap kali bertemu dengan kakak, aku merasa sangat malu, ingin sekali aku menceritakan masalah ini pada ibu, atau juga nenek namun aku tidak mempunyai keberanian.
Dengan kejadian yang telah membuatku merasa terhina ini, membuatku lebih berhati-hati ketika harus berhadapan dengan kakak, namun sebaliknya kakak menjadi semakin berani menyergap tubuhku. Di saat situasi rumah sepi, maka kakak akan mengejarku, mempermalukan aku dengan mempermainkan tubuhku. Aku tersiksa namun aku tidak punya kekuatan untuk melawannya, dia terlalu kuat, perkasa.
Di usia sembilan tahun aku sudah mengalami menstruasi. Badanku tumbuh jauh lebih besar dari teman-teman seusiaku. Aku risih menjadi anak yang sudah memiliki ciri kewanitaan yang utuh. Aku menjadi semakin gelisah karena dengan demikian kakakku akan lebih agresif untuk menjamah tubuhku. Selain kakakku, di sekolah aku pun mendapatkan perlakuan yang sama oleh guru kelasku. Di dalam kelas, aku mendapat tempat di deretan kursi paling belakang. Setiap ada kesempatan, bapak guru datang menghampiri mejaku, membelai rambutku dan juga mengelus-elus payudaraku. Kalau dengan kakak, aku masih mempunyai keberanian untuk menghindari atau melawan namun dengan guru, aku benar-benar tidak berdaya. Aku takut tidak naik kelas dan takut dimarahi?
Ke-tidakberdaya-an-ku karena perlakuan kakak dan bapak guru, yang selalu menyerangku secara seksual, membuatku merasa tidak nyaman baik di rumah maupun di sekolah. Aku ingin keluar dari rumah atau berhenti sekolah namun aku takut pada guru dan juga pada ibu. Oleh karena itu aku mulai mencari teman bermain di sekitar rumahku, bermain dengan tetanggaku dan juga dengan orang-orang asing yang aku temukan di sekitar rumahku. Usia teman-teman bermainku tidak hanya yang sebaya denganku tetapi ada juga yang usianya jauh lebih tua dari usiaku. Dari sekian banyak orang yang telah menjadi sahabatku, ada satu orang laki-laki yang usianya jauh di atasku, dia peduli padaku. Dia selalu mendengarkan keluhanku, dia selalu berusaha agar aku nyaman berada di sampingnya. Ketika aku mengatakan kalau aku sedang frustrasi, merasa takut dan tidak tenang, sahabat baik ini memberikan tablet yang membuatku merasa sangat tenang? Dia memberikan berbagai nasehat dan kadang-kadang memujiku. Aku sudah menemukan orang yang tepat, orang mau berbagi dan memberikan perlindungan serta kenyamanan. Karena aku sudah sangat percaya kepada laki-laki yang sudah aku anggap sebagai kakak ini, aku pun menceritakan semua rahasiaku kepadanya.
***
Daya tarik dunia luar tidak mampu mengikatku lagi, karena ada hal yang lebih penting dari semuanya. Nenekku sakit! selama ini nenek adalah segalanya, dia yang memberikan aku kenyaman dan kehidupan di dalam rumah. Untuk itu setiap hari setelah pulang sekolah aku harus menjaga dan merawatnya dan sebisa mungkin memenuhi semua keinginannya. Aku melakukan semua ini karena aku sangat takut kehilangan nenekku. Namun Tuhan merencanakan lain. Tuhan memisahkan aku dan nenek di saat ibu dan kakak- kakakku menjauhiku.
Lulus Sekolah Dasar, ibu mengatakan bahwa aku akan melanjutkan sekolahku di Sekolah Menengah Pertama di luar kota. Dan karena ibu tidak bisa mengawasiku setiap saat maka aku harus tinggal di panti asuhan. Menurut ibu, semua keputusan ini diambil demi kebaikanku, artinya aku tidak boleh menolak. Dalam hati aku bertanya, mengapa harus sekolah di luar kota dan tinggal di panti asuhan? Bukankan panti asuhan adalah tempat bagi anak-anak yang tidak mempunyai orangtua? Namun aku sadar bahwa dalam situasi seperti ini aku tidak boleh memberikan pertanyaan konyol yang bisa memancing emosi ibuku. Artinya aku harus menerima keputusan ini dan aku harus tinggal di Panti Asuhan!
Setelah satu minggu berada dalam lingkungan panti asuhan, aku mulai mengenal beberapa teman dan juga latar belakang serta alasan keberadaan mereka di panti asuhan. Dari sini aku pun mengetahui ternyata, tidak semuanya anak-anak yang tinggal di panti ini adalah anak yatim piatu, mereka juga mempunyai orangtua. Oleh karena itu pada setiap hari libur, ruangan tamu panti asuhan menjadi lebih ramai dari biasanya karena hampir semua anak yang mempunyai orangtua, mendapat kunjungan dan sudah pasti mereka mendapatkan bingkisan dari keluarga.
Janji mama untuk selalu datang menemuiku ternyata hanyalah sebatas kata-kata penghibur hatiku semata. Walau demikian aku selalu mencoba untuk berpikir positif terhadap ibuku, ya, mungkin ibu capek karena setiap hari ibu harus bekerja mencari uang dan menjadi sangat tidak pantas jika aku harus menyalahkan mamaku. Aku harus rajin belajar, rajin pergi ke sekolah agar bisa lulus pada waktunya sehingga aku bisa berkumpul lagi dengan mama. Aku tidak mampu untuk bertahan di dalam panti asuhan karena ternyata pengurus panti jauh lebih kejam daripada mama. Tidak itu saja, anak pengurus panti yang juga tinggal bersama kami, juga turut mendikte, menunjukan kekuasaannya dengan memerintahkan kepada kami untuk melakukan pekerjaan yang tidak masuk akal. Aku muak melihat sikap pengurus panti asuhan dan juga muak pada sikap anaknya yang tega memperlakukan kami sebagai manusia kelas dua, manusia yang harus patuh pada tuannya karena telah mendapatkan upah makanan dan penginapan?
Ketidakmampuanku dalam mempertahankan diri menghadapi kekuatan di panti memaksaku untuk melawan dengan caraku sendiri. Tanpa sepengetahuan pengasuh panti, aku sudah mempunyai banyak teman di luar. Dari sekian banyak teman ada seorang laki-laki mengatakan mencintaiku. Hatiku berbunga dan akupun menyambut cintanya. Jujur saja bahwa selama hidupku aku tidak pernah mendengarkan kata sayang atau cinta dari orang-orang di sekitarku. Di rumah dan juga di panti asuhan aku hanyalah makluk kecil yang senantiasa melakukan kesalahan sehingga aku sering mendapatkan omelan dan cacian. Di sini, aku mendapatkan kembali harga diriku, penghargaan! Untuk sesaat aku merasa bahagia, karena sebagian dari luka hatiku terobati. Namun kebahagian ini ternyata semu, karena dari laki-laki ini akupun mengenal lagi tablet seperti yang pernah aku dapatkan di masa kecilku. Bahkan dari dia juga aku mengenal lebih banyak obat penenang. Dan karena ketidaktahuanku akan dampak lanjutan dari obat-obatan ini membuat aku menjadi hambanya. Aku ketagihan, oleh karena itu setiap hari aku selalu memaksa pacarku untuk mendapatkan tablet-tablet itu. Tidak ada kata tidak ada karena aku membutuhnya sekarang! Namun pacarku sering gagal untuk mendapatkannya sehingga aku memaksakan diri utuk menemui orang yang memiliki barang tersebut. Tanpa basa-basi pemilik tablet mengatakan bahwa barangnya ada, dan apabila aku tidak mempunyai uang aku bisa menukarkannya dengan seks?
Keinginan yang tidak bisa aku tangguhkan dan rasa sakit di sekujur tubuhku, memudahkan laki-laki yang usianya lebih pantas aku panggil papa ini untuk menikmati tubuhku. Pengalaman pahit ini aku jalani berulang-ulang, aku ingin melepaskannya namun aku tidak tahu. Aku tidak sanggup menahan rasa sakit apabila aku tidak menelan obat penenang. Satu-satunya orang yang mengetahui penyakitku ini adalah pacarku untuk itu, dia menasihati dan memaksaku untuk berhenti, menjauhkan aku dari pemilik obat-obatan itu. Aku masih ingat kalimat dari pacarku yang mengatakan bahwa aku akan mati jika aku sudah tidak bisa menahan keinginanku. Rasa takut akan mati dan penghormatan-ku pada pacarku memaksaku untuk mengurangi mengkonsumsi obat-obatan itu. Aku bisa lepas dari narkotika berkat pacarku, dan sebagai balasannya pacarku memaksaku untuk melayani seksnya setiap dia menginginkannya. Sungguh dia menjadikan aku sebagai alat pemuas seks!
Lulus SMP, aku kembali ke rumah, aku sudah bersama ibu lagi dan aku telah berusaha sekuat tenaga untuk menguburkan semua masa laluku. Aku ingin memulai kehidupan baru, hidup suci yang jauh dari narkoba atau pun seks. Namun setelah satu minggu tinggal bersama ibu, mimpi buruk pun datang lagi. Kakak laki datang di saat rumah sepi dan dengan garang kakak menyergapku, dan dengan sekuat tenaga aku pun melakukan perlawanan sehingga kakakku pun menyerah. Aku bisa selamat dari kejahatan namun, rasa malu dan sakit hati tidak bisa aku obati. Untuk itu setelah ibu datang, aku pun mengadukan semua perbuatan kakak kepada ibu dengan harapan ibu akan menghakimi kakak dan memberikan perlindungan kepadaku. Jawaban ibu ternyata jauh dari harapanku sebaliknya ibu mencaciku dan mengusirku dari rumah.
Semua rencanaku gagal, ibu tidak mau memberi kesempatan kepadaku untuk melanjutkan sekolah, dia sangat marah padaku karena menganggapku sudah melakukan fitnah terhadap anak kesayangannya. Sia-sia aku mengadukan persoalanku, dan sejak saat itu juga ibu memintaku untuk pergi dari rumah. Dengan perasaan malu dan takut akan hal baru yang aku hadapi, aku harus keluar rumah, mencari pekerjaan untuk mempertahankan hidupku. Aku sudah tidak bisa bergantung pada siapa pun.
Seperti orang yang tengah mendapatkan kutukan, hidupku selalu dirundung duka. Tidak peduli di rumah, di sekolah, di panti asuhan ataupun di tempat kos, aku selalu mendapatkan cobaan dan godaan. Aku lelah dan aku ingin mengakhiri hidupku? Dalam suasana bathin yang sangat galau aku pun mencoba menghubungi sebuah lembaga yang melakukan perlindungan anak di kotaku. Dari lembaga ini aku bertemu dengan orang – orang yang mau memahamiku, mempedulikanku sehingga aku pun mampu membebaskan diri dari belenggu yang telah lama membebani hidupku. Aku merasa di hormati dan menjadi anak manusia yang sesungguhnya. Aku bisa melanjutkan Sekolah Menengah seperti yang telah aku impikan di masa kanak-kanakku.
Seperti yang diceritakan kembali kepada Joris Lato
Aku di lahirkan di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Usia dua bulan nenek dan ibuku membawaku ke Surabaya. Ibu tidak bisa tinggal di kota asalnya karena sebuah alasan yang sampai saat ini menjadi sebuah pertanyaan besar di kepalaku. Di Surabaya, kami bertiga tinggal dalam sebuah rumah kontrakan.
Pada usia lima tahun, rumah kecil kami didatangi tiga penghuni baru, dua orang gadis dan satu orang pemuda. Nenek dan ibu mengenalkan padaku bahwa mereka semuanya adalah kakakku? Aku sangat senang karena dengan hadirnya tiga orang kakak ini setidaknya aku mendapatkan teman untuk bermain. Dari semua kakak-kakakku, ada satu orang kakak yang paling aku sukai. Dia pandai menyenangkan hatiku, karena setiap kali pulang kerja, dia selalu membawakan permen ataupun kue kesukaanku. Merasa mendapatkan perhatian lebih dari kakak, aku pun menjadi lebih dekat dengannya. Ketika kakak mengajakku bermain di dalam kamar, memeluk dan menciumi tubuhku, aku pun menyambutnya dengan hangat. Namun setelah tangan kakak masuk ke dalam celanaku, aku pun menepis tangannya. Aku masih ingat sekali ketika pertama kali tangan kakak menyentuh bagian tubuhku yang sangat sensitif. Dan sejak saat itu aku mulai menjaga jarak dengan kakak. Setiap kali bertemu dengan kakak, aku merasa sangat malu, ingin sekali aku menceritakan masalah ini pada ibu, atau juga nenek namun aku tidak mempunyai keberanian.
Dengan kejadian yang telah membuatku merasa terhina ini, membuatku lebih berhati-hati ketika harus berhadapan dengan kakak, namun sebaliknya kakak menjadi semakin berani menyergap tubuhku. Di saat situasi rumah sepi, maka kakak akan mengejarku, mempermalukan aku dengan mempermainkan tubuhku. Aku tersiksa namun aku tidak punya kekuatan untuk melawannya, dia terlalu kuat, perkasa.
Di usia sembilan tahun aku sudah mengalami menstruasi. Badanku tumbuh jauh lebih besar dari teman-teman seusiaku. Aku risih menjadi anak yang sudah memiliki ciri kewanitaan yang utuh. Aku menjadi semakin gelisah karena dengan demikian kakakku akan lebih agresif untuk menjamah tubuhku. Selain kakakku, di sekolah aku pun mendapatkan perlakuan yang sama oleh guru kelasku. Di dalam kelas, aku mendapat tempat di deretan kursi paling belakang. Setiap ada kesempatan, bapak guru datang menghampiri mejaku, membelai rambutku dan juga mengelus-elus payudaraku. Kalau dengan kakak, aku masih mempunyai keberanian untuk menghindari atau melawan namun dengan guru, aku benar-benar tidak berdaya. Aku takut tidak naik kelas dan takut dimarahi?
Ke-tidakberdaya-an-ku karena perlakuan kakak dan bapak guru, yang selalu menyerangku secara seksual, membuatku merasa tidak nyaman baik di rumah maupun di sekolah. Aku ingin keluar dari rumah atau berhenti sekolah namun aku takut pada guru dan juga pada ibu. Oleh karena itu aku mulai mencari teman bermain di sekitar rumahku, bermain dengan tetanggaku dan juga dengan orang-orang asing yang aku temukan di sekitar rumahku. Usia teman-teman bermainku tidak hanya yang sebaya denganku tetapi ada juga yang usianya jauh lebih tua dari usiaku. Dari sekian banyak orang yang telah menjadi sahabatku, ada satu orang laki-laki yang usianya jauh di atasku, dia peduli padaku. Dia selalu mendengarkan keluhanku, dia selalu berusaha agar aku nyaman berada di sampingnya. Ketika aku mengatakan kalau aku sedang frustrasi, merasa takut dan tidak tenang, sahabat baik ini memberikan tablet yang membuatku merasa sangat tenang? Dia memberikan berbagai nasehat dan kadang-kadang memujiku. Aku sudah menemukan orang yang tepat, orang mau berbagi dan memberikan perlindungan serta kenyamanan. Karena aku sudah sangat percaya kepada laki-laki yang sudah aku anggap sebagai kakak ini, aku pun menceritakan semua rahasiaku kepadanya.
***
Daya tarik dunia luar tidak mampu mengikatku lagi, karena ada hal yang lebih penting dari semuanya. Nenekku sakit! selama ini nenek adalah segalanya, dia yang memberikan aku kenyaman dan kehidupan di dalam rumah. Untuk itu setiap hari setelah pulang sekolah aku harus menjaga dan merawatnya dan sebisa mungkin memenuhi semua keinginannya. Aku melakukan semua ini karena aku sangat takut kehilangan nenekku. Namun Tuhan merencanakan lain. Tuhan memisahkan aku dan nenek di saat ibu dan kakak- kakakku menjauhiku.
Lulus Sekolah Dasar, ibu mengatakan bahwa aku akan melanjutkan sekolahku di Sekolah Menengah Pertama di luar kota. Dan karena ibu tidak bisa mengawasiku setiap saat maka aku harus tinggal di panti asuhan. Menurut ibu, semua keputusan ini diambil demi kebaikanku, artinya aku tidak boleh menolak. Dalam hati aku bertanya, mengapa harus sekolah di luar kota dan tinggal di panti asuhan? Bukankan panti asuhan adalah tempat bagi anak-anak yang tidak mempunyai orangtua? Namun aku sadar bahwa dalam situasi seperti ini aku tidak boleh memberikan pertanyaan konyol yang bisa memancing emosi ibuku. Artinya aku harus menerima keputusan ini dan aku harus tinggal di Panti Asuhan!
Setelah satu minggu berada dalam lingkungan panti asuhan, aku mulai mengenal beberapa teman dan juga latar belakang serta alasan keberadaan mereka di panti asuhan. Dari sini aku pun mengetahui ternyata, tidak semuanya anak-anak yang tinggal di panti ini adalah anak yatim piatu, mereka juga mempunyai orangtua. Oleh karena itu pada setiap hari libur, ruangan tamu panti asuhan menjadi lebih ramai dari biasanya karena hampir semua anak yang mempunyai orangtua, mendapat kunjungan dan sudah pasti mereka mendapatkan bingkisan dari keluarga.
Janji mama untuk selalu datang menemuiku ternyata hanyalah sebatas kata-kata penghibur hatiku semata. Walau demikian aku selalu mencoba untuk berpikir positif terhadap ibuku, ya, mungkin ibu capek karena setiap hari ibu harus bekerja mencari uang dan menjadi sangat tidak pantas jika aku harus menyalahkan mamaku. Aku harus rajin belajar, rajin pergi ke sekolah agar bisa lulus pada waktunya sehingga aku bisa berkumpul lagi dengan mama. Aku tidak mampu untuk bertahan di dalam panti asuhan karena ternyata pengurus panti jauh lebih kejam daripada mama. Tidak itu saja, anak pengurus panti yang juga tinggal bersama kami, juga turut mendikte, menunjukan kekuasaannya dengan memerintahkan kepada kami untuk melakukan pekerjaan yang tidak masuk akal. Aku muak melihat sikap pengurus panti asuhan dan juga muak pada sikap anaknya yang tega memperlakukan kami sebagai manusia kelas dua, manusia yang harus patuh pada tuannya karena telah mendapatkan upah makanan dan penginapan?
Ketidakmampuanku dalam mempertahankan diri menghadapi kekuatan di panti memaksaku untuk melawan dengan caraku sendiri. Tanpa sepengetahuan pengasuh panti, aku sudah mempunyai banyak teman di luar. Dari sekian banyak teman ada seorang laki-laki mengatakan mencintaiku. Hatiku berbunga dan akupun menyambut cintanya. Jujur saja bahwa selama hidupku aku tidak pernah mendengarkan kata sayang atau cinta dari orang-orang di sekitarku. Di rumah dan juga di panti asuhan aku hanyalah makluk kecil yang senantiasa melakukan kesalahan sehingga aku sering mendapatkan omelan dan cacian. Di sini, aku mendapatkan kembali harga diriku, penghargaan! Untuk sesaat aku merasa bahagia, karena sebagian dari luka hatiku terobati. Namun kebahagian ini ternyata semu, karena dari laki-laki ini akupun mengenal lagi tablet seperti yang pernah aku dapatkan di masa kecilku. Bahkan dari dia juga aku mengenal lebih banyak obat penenang. Dan karena ketidaktahuanku akan dampak lanjutan dari obat-obatan ini membuat aku menjadi hambanya. Aku ketagihan, oleh karena itu setiap hari aku selalu memaksa pacarku untuk mendapatkan tablet-tablet itu. Tidak ada kata tidak ada karena aku membutuhnya sekarang! Namun pacarku sering gagal untuk mendapatkannya sehingga aku memaksakan diri utuk menemui orang yang memiliki barang tersebut. Tanpa basa-basi pemilik tablet mengatakan bahwa barangnya ada, dan apabila aku tidak mempunyai uang aku bisa menukarkannya dengan seks?
Keinginan yang tidak bisa aku tangguhkan dan rasa sakit di sekujur tubuhku, memudahkan laki-laki yang usianya lebih pantas aku panggil papa ini untuk menikmati tubuhku. Pengalaman pahit ini aku jalani berulang-ulang, aku ingin melepaskannya namun aku tidak tahu. Aku tidak sanggup menahan rasa sakit apabila aku tidak menelan obat penenang. Satu-satunya orang yang mengetahui penyakitku ini adalah pacarku untuk itu, dia menasihati dan memaksaku untuk berhenti, menjauhkan aku dari pemilik obat-obatan itu. Aku masih ingat kalimat dari pacarku yang mengatakan bahwa aku akan mati jika aku sudah tidak bisa menahan keinginanku. Rasa takut akan mati dan penghormatan-ku pada pacarku memaksaku untuk mengurangi mengkonsumsi obat-obatan itu. Aku bisa lepas dari narkotika berkat pacarku, dan sebagai balasannya pacarku memaksaku untuk melayani seksnya setiap dia menginginkannya. Sungguh dia menjadikan aku sebagai alat pemuas seks!
Lulus SMP, aku kembali ke rumah, aku sudah bersama ibu lagi dan aku telah berusaha sekuat tenaga untuk menguburkan semua masa laluku. Aku ingin memulai kehidupan baru, hidup suci yang jauh dari narkoba atau pun seks. Namun setelah satu minggu tinggal bersama ibu, mimpi buruk pun datang lagi. Kakak laki datang di saat rumah sepi dan dengan garang kakak menyergapku, dan dengan sekuat tenaga aku pun melakukan perlawanan sehingga kakakku pun menyerah. Aku bisa selamat dari kejahatan namun, rasa malu dan sakit hati tidak bisa aku obati. Untuk itu setelah ibu datang, aku pun mengadukan semua perbuatan kakak kepada ibu dengan harapan ibu akan menghakimi kakak dan memberikan perlindungan kepadaku. Jawaban ibu ternyata jauh dari harapanku sebaliknya ibu mencaciku dan mengusirku dari rumah.
Semua rencanaku gagal, ibu tidak mau memberi kesempatan kepadaku untuk melanjutkan sekolah, dia sangat marah padaku karena menganggapku sudah melakukan fitnah terhadap anak kesayangannya. Sia-sia aku mengadukan persoalanku, dan sejak saat itu juga ibu memintaku untuk pergi dari rumah. Dengan perasaan malu dan takut akan hal baru yang aku hadapi, aku harus keluar rumah, mencari pekerjaan untuk mempertahankan hidupku. Aku sudah tidak bisa bergantung pada siapa pun.
Seperti orang yang tengah mendapatkan kutukan, hidupku selalu dirundung duka. Tidak peduli di rumah, di sekolah, di panti asuhan ataupun di tempat kos, aku selalu mendapatkan cobaan dan godaan. Aku lelah dan aku ingin mengakhiri hidupku? Dalam suasana bathin yang sangat galau aku pun mencoba menghubungi sebuah lembaga yang melakukan perlindungan anak di kotaku. Dari lembaga ini aku bertemu dengan orang – orang yang mau memahamiku, mempedulikanku sehingga aku pun mampu membebaskan diri dari belenggu yang telah lama membebani hidupku. Aku merasa di hormati dan menjadi anak manusia yang sesungguhnya. Aku bisa melanjutkan Sekolah Menengah seperti yang telah aku impikan di masa kanak-kanakku.
Seperti yang diceritakan kembali kepada Joris Lato
No comments:
Post a Comment