Wednesday, 27 August 2014

Istriku adalah isnpirasi dan sumber kekuatanku








Sebelum menikah, saya merasa bisa melakukan sendiri  semua yang saya mimpikan.  Saya tidak membutuhkan campur tangan orang lain karena bagi saya pada saat itu,  saya adalah sumber  kekuatan.  Untuk itu saya tidak merasa  terlalu memerlukan usulan, bantuan dari orang,  karena saya takut konsentrasiku menjadi buyar sehingga  pada akhirnya  saya tidak mampu merealisasikan angan-angan saya menjadi sebuah karya nyata.
Pemikiran atau anggapan ini perlahan-lahan hilang setelah saya bertemu dengan perempuan yang saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan saya.  Menjadi istri saya dan ibu dari anak-anak saya. Dia dengan cepat mengajarkan pada saya tentang arti  pengorbanan dan cinta  yang sesungguhnya. Dia tidak pernah mengeluhkan ketika melakukan pekerjaan yang sangat menjenuhkan. Dia menjadi embun penyejuk hatiku  dan anak-kami,  menjadi teladan bagi anak-anak kami dengan  berhati berlapiskan emas. Ah, istriku, engkau terlampau sempurna di mataku!
Setiap Jam 05.00 pagi dia sudah bangun dari tidurnya dan mulai melakukan pekerjaan seperti; membenahi tempat tidur, menyapu lantai, mengepel, mencuci piring, membuatkan kopi dan sarapan buat saya dan anak-anak kami.
Selanjutnya dia mulai menyiapkan pakaian dan buku-buku untuk anak kami yang akan berangkat sekolah, membuka garasi untuk kemudian menghidupkan kendaraan, menuntun anak-anak kami kepada saya yang tengah asyik menikmati kopi dan membaca Koran pagi agar anak anaknya mendapatkan berkat dari saya. Usai mengantarkan anak-anak sekolah istriku tidak langsung pulang ke rumah namun harus mampir di pasar untuk membeli menu bahan makan sesuai dengan pesanan anak-anaknya. Dia tidak pernah berpikir untuk membeli makanan sesuai dengan seleranya sendiri, karena yang dia inginkan adalah kenikmatan yang dirasakan anak-anaknya dan juga saya pada saat kami semua menyantapnya.
***
Saya mampu mempersiapkan  semua barang-barang kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaaan saya di kantor nantinya  untuk itu saya merasa tidak membutuhkan bantuan istri saya lagi,  namun  demikian istriku tetap bersama saya  mempersiapkan barang-barang kebutuhan atau pun pakaian  yang pantas untuk saya kenakan. Saya sudah siap di samping kendaraan, saya akan pergi dan di saat itu juga, istriku akan berdiri di sampingku, mencium tanganku sebelum saya benar-benar pergi bekerja!
Selama lebih dari delapan jam saya berada di luar rumah, istriku akan terus melanjutkan pekerjaannya. Mulai dari menyeterika pakaian, memasak dan kemudian menjemput anak-anak kami dari sekolah. Ketika anak-anak sudah rumah,  berkumpul semuanya artinya barang barang yang sudah ditata secara rapi akan berserakan seketika. Dalam situasi seperti ini sudah tentu istriku mulai mengajarkan anak-anaknya untuk bekerja, bertanggung jawab terhadap  perbuatan mereka.  Anak-anak menolak, menghindari untuk merapikan kembali barang yang sudah mereka porak-porandakan ini artinya istriku harus dengan sangat sabar menjelaskan dan bekerja bersama dengan anak-anak.
Istriku lelah secara fisik atau psikis? Itu sudah tentu namun sebagai ibu dari  anak-anak, dia akan tetap  membimbing anak-anaknya, membantu anak-anak dalam menyelesaikan persoalan.
***
Sore hari hari ketika saya pulang kerja, istriku akan berdiri di depan pintu menyambut kedatanganku, melepaskan bajuku dan membimbingku ke meja makan agar saya bisa menikmati secangkir teh yang sudah dia siapkan.  
Matahari sudah tenggelam, namun istriku masih mempunyai  setumpuk pekerjaan  yang harus dia selesaikan. Dia akan sangat senang duduk berdampingan dengan saya di meja makan, melayani makanan atau pun minuman yang menjadi kebiasaan saya. Lepas dari meja makan, istriku akan memanggil semua anak-anak kami, menanyakan kepada anak-anak apakah mereka mempunyai tugas dari sekolah yang harus dikerjakan di rumah lalu mendampingi anak- anak kami belajar. Ketika anak-anak sudah selesai belajar, istriku masih harus mendampingi anak-anak kami di kamar tidur, mendongeng atau menyanyikan lagu pengantar tidur bagi anak-anak kami. Pekerjaan istriku untuk anak-anak kami sudah selesai namun keinginannya untuk menyenangkan hati saya,  suaminya terus menyala sehingga dia mulai mencerita kelucuan-kelucuan anak-anak kami, memberikan sentuhan lembut bagiku  atau berbagi cerita apa saja yang membuat saya merasa nyaman hingga mata ini terpejam.




No comments:

Post a Comment