Sebelum
menikah, saya merasa bisa melakukan sendiri semua yang saya mimpikan. Saya tidak membutuhkan campur tangan orang
lain karena bagi saya pada saat itu, saya
adalah sumber kekuatan. Untuk itu saya tidak merasa terlalu memerlukan usulan, bantuan dari orang,
karena saya takut konsentrasiku menjadi
buyar sehingga pada akhirnya saya tidak mampu merealisasikan angan-angan
saya menjadi sebuah karya nyata.
Pemikiran
atau anggapan ini perlahan-lahan hilang setelah saya bertemu dengan perempuan
yang saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan saya. Menjadi istri saya dan ibu dari anak-anak
saya. Dia dengan cepat mengajarkan pada saya tentang arti pengorbanan dan cinta yang sesungguhnya. Dia tidak pernah
mengeluhkan ketika melakukan pekerjaan yang sangat menjenuhkan. Dia menjadi
embun penyejuk hatiku dan anak-kami, menjadi teladan bagi anak-anak kami dengan berhati berlapiskan emas. Ah, istriku, engkau
terlampau sempurna di mataku!
Setiap
Jam 05.00 pagi dia sudah bangun dari tidurnya dan mulai melakukan pekerjaan
seperti; membenahi tempat tidur, menyapu lantai, mengepel, mencuci piring,
membuatkan kopi dan sarapan buat saya dan anak-anak kami.
Selanjutnya
dia mulai menyiapkan pakaian dan buku-buku untuk anak kami yang akan berangkat
sekolah, membuka garasi untuk kemudian menghidupkan kendaraan, menuntun
anak-anak kami kepada saya yang tengah asyik menikmati kopi dan membaca Koran pagi
agar anak anaknya mendapatkan berkat dari saya. Usai mengantarkan anak-anak
sekolah istriku tidak langsung pulang ke rumah namun harus mampir di pasar
untuk membeli menu bahan makan sesuai dengan pesanan anak-anaknya. Dia tidak
pernah berpikir untuk membeli makanan sesuai dengan seleranya sendiri, karena
yang dia inginkan adalah kenikmatan yang dirasakan anak-anaknya dan juga saya
pada saat kami semua menyantapnya.
***
Saya
mampu mempersiapkan semua barang-barang
kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaaan saya di kantor nantinya untuk itu saya merasa tidak membutuhkan bantuan
istri saya lagi, namun demikian istriku tetap bersama saya mempersiapkan barang-barang kebutuhan atau pun
pakaian yang pantas untuk saya kenakan. Saya
sudah siap di samping kendaraan, saya akan pergi dan di saat itu juga, istriku
akan berdiri di sampingku, mencium tanganku sebelum saya benar-benar pergi
bekerja!
Selama
lebih dari delapan jam saya berada di luar rumah, istriku akan terus melanjutkan
pekerjaannya. Mulai dari menyeterika pakaian, memasak dan kemudian menjemput
anak-anak kami dari sekolah. Ketika anak-anak sudah rumah, berkumpul semuanya artinya barang barang yang
sudah ditata secara rapi akan berserakan seketika. Dalam situasi seperti ini
sudah tentu istriku mulai mengajarkan anak-anaknya untuk bekerja, bertanggung
jawab terhadap perbuatan mereka. Anak-anak menolak, menghindari untuk merapikan
kembali barang yang sudah mereka porak-porandakan ini artinya istriku harus
dengan sangat sabar menjelaskan dan bekerja bersama dengan anak-anak.
Istriku
lelah secara fisik atau psikis? Itu sudah tentu namun sebagai ibu dari anak-anak, dia akan tetap membimbing anak-anaknya, membantu anak-anak
dalam menyelesaikan persoalan.
***
Sore
hari hari ketika saya pulang kerja, istriku akan berdiri di depan pintu
menyambut kedatanganku, melepaskan bajuku dan membimbingku ke meja makan agar
saya bisa menikmati secangkir teh yang sudah dia siapkan.
Matahari
sudah tenggelam, namun istriku masih mempunyai setumpuk pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dia akan sangat
senang duduk berdampingan dengan saya di meja makan, melayani makanan atau pun
minuman yang menjadi kebiasaan saya. Lepas dari meja makan, istriku akan
memanggil semua anak-anak kami, menanyakan kepada anak-anak apakah mereka
mempunyai tugas dari sekolah yang harus dikerjakan di rumah lalu mendampingi
anak- anak kami belajar. Ketika anak-anak sudah selesai belajar, istriku masih
harus mendampingi anak-anak kami di kamar tidur, mendongeng atau menyanyikan
lagu pengantar tidur bagi anak-anak kami. Pekerjaan istriku untuk anak-anak
kami sudah selesai namun keinginannya untuk menyenangkan hati saya, suaminya terus menyala sehingga dia mulai
mencerita kelucuan-kelucuan anak-anak kami, memberikan sentuhan lembut bagiku atau berbagi cerita apa saja yang membuat saya
merasa nyaman hingga mata ini terpejam.
No comments:
Post a Comment