Monday, 25 August 2014

Laki-laki penjual Istri

Larut  malam di sebuah pemakaman umum di kota ini, ada gelak tawa dan keriangan getir keluar dari bibir berpoles gincu merah pudar - pasi.  Aku berbagi senyum kepadamu dan juga sebayamu.
"Selamat malam mbak, apa kabar?"  sapa lembutku menggiring tatapan perempuan berbaju biru muda mendarat lemah di wajahku. Mata kami beradu, saling periksa, dan ketika mataku berhenti di bagian perut perempuan di hadapanku, bibirku pun tak tahan untuk menanyakannya. 
"Sudah berapa bulan mbak?" Sambil tangannya mengelus perutnya, perempuan itu berkata; 
"sudah lebih dari  tujuh bulan, hampir delapan." 
"selama ini apakah sudah pernah ke dokter? atau ke bidan?" Dengan nada sendat sengau perempuan ini mengatakan bahwa dia belum pernah kedokter atau pun bidan! 
Aku memalingkan wajah kepada seorang laki-laki berpostur tegap dan subur yang berdiri persis di sampingnya. Dan, seperti ada kesepakatan bathin antara aku dan perempuan ini, tatapan mata kami pun berhenti pada  - Dodon - sahabat saya, teman satu lembaga.
"Ooooohhh, mas Dodon, kami sudah lama berkenalan pak! Mas Dodon ini yang selalu menasehati kami di sini agar selalu menjaga kesehatan. selain mas Dodon kami disini sering berkonsultasi pada mbak Rasti, gadis  kecil, cantik  tapi  berani?" setelah menyebutkan nama Rasti, perempuan ini melemparkan pandangannya kepada semua orang yang ada di sekitarnya. Di pemakaman blok R. perempuan itu meletakan tatapannya.
"Itu pak, mbak Rasti, dia lagi berbicara dengan mbak Wiwik. Nah,  itu pak,  yang memegang kardus putih? kardus itu isi kondom pak."
Pembicaraan kami terhenti. Ada  sepeda motor berhenti di depan kami dan laki-laki paruh baya bersama  anak laki-laki  yang  masih usia sekolah dasar turun dari sepeda motor. 
"Kenalkan pak ini suami saya, dan ini Rudy anak bungsu saya! maaf pak lain waktu kita ngobrol lagi, suamiku sudah menjemput." Dalam kebingungan aku pun menyodorkan tangan, kami bersalaman. Aku tersenyum tanpa arti kepada pemilik sepeda motor. Sesaat kemudian bapak, ibu dan anak sudah di atas sepeda motor, melaju hilang di balik pemakamanan.
Malam ini ada sejuta pertanyaan yang  menghantui tidur malamku. 

Surabaya,  Agustus 2014


No comments:

Post a Comment