Sunday, 24 August 2014

Doa seorang gadis "Tuhan ini bukan kemauanku"



Panggil saja namaku Rini, saya dilahirkan di sebuah desa kecil di Jawa Timur. Kami empat bersaudara yang semuanya perempuan. Saya anak ketiga. Setelah ibu melahirkan adik yang terakhir, kedua orangtuaku cerai. Bapakku menikah lagi sedangkan ibu pergi mencari kerja di Surabaya. Kami berempat tinggal bersama nenek di desa. Seperti kebanyakan anak perempuan di desa saya, mereka cenderung lebih  dekat dengan Bapaknya, demikian juga saya, saya selalu ingin dekat dengan Bapak namun Bapak terus menghindari untuk bertemu dengan saya dan juga kakak serta adik saya.
Setelah kehilangan sosok Bapak dalam rumah, saya menjadi gampang untuk didekati laki-laki yang lebih tua. Ketika usia  sepuluh tahun,  saya didekati seorang laki-laki yang seumur dengan Bapakku tetapi dia tidak menikah. Bujang lapuk tersebut selalu memberiku uang jajan untuk sekolah. Saya sangat menikmati kedekatan itu, karena di saat saudara-saudaraku yang lain tidak mendapatkan makanan atau uang, saya masih bisa membeli jajan dan makanan. Di luar pikiranku ternyata laki-laki yang setiap hari memberiku makanan dan uang jajan menghendaki sesuatu dariku.  
Suatu hari kami bertemu di ladang, seperti biasa dia memanggilku, saya menuruti saja ketika dia mengajakku ke gubuk. Di tempat sepi, jauh dari kampung dan orang-orang dia menanggalkan pakaianku, meraba seluruh tubuhku. Saya tidak mengerti apa yang dia kehendaki,  saya ingin menolak tapi karena saya tahu bahwa dia adalah orang baik, saya mengurungkan niat untuk menepis tangannya. Pikiranku saat itu mungkin dia mau memijit atau memeriksa tubuhku dari sesuatu yang menyerangku sehingga saya tetap saja  diam walau  semua anggota tubuhku sudah dijelajahinya.   Bukan hanya sekali, tapi setiap kali kami bertemu kapan dan dimana pun dia selalu melakukan hal yang sama terhadap diriku.
Apabila ada anak-anak yang sebaya denganku  berjalan bersamaku, lelaki itu selalu minta bantuan teman-temanku untuk menjaga pintu. Sebaliknya kalau laki-laki tersebut sedang berduaan di dalam rumahnya dengan anak-anak sebaya saya, kami diminta untuk menjaga pintu rumahnya, menghalang-halangi orang yang hendak masuk. Sebagai upah-nya, kami semua baik yang ada di dalam ruangan maupun yang menjaga pintu, akan mendapatkan uang jajan. Saya mengetahui kalau perbuatannya sebagai perbuatan seksual setelah mendengar pembicaraan teman-teman laki-laki  satu sekolah yang lebih tua dari saya. Walau saya sudah tahu bahwa perbuatan laki-laki tersebut kepada saya dan teman-teman saya itu salah dan  seharusnya tidak boleh dilakukan, saya dan teman-teman tetap saja mau melakukannya. Saya merasa diuntungkan, saya mendapatkan makanan dan uang secara cuma-cuma. Sayapun mulai bisa menikmati perlakuannya. Perlakuan  bujang lapuk terhadap saya selama tiga tahun, sejak saya belum mengenal seks sampai saya merasa ketagihan untuk mengulanginya lagi.  
Lulus sekolah dasar saya ditawari oleh tetangga desa saya untuk menjadi tenaga kerja wanita di Malaysia. Untuk memudahkan proses pengurusan administrasi, usiaku dinaikkan menjadi 17 tahun. Saya mendapat kontrak kerja sebagai pembantu rumah tangga selama tiga tahun. Beratnya pekerjaan dan kasarnya sikap majikan membuat saya tidak betah untuk bekerja. Saya kembali ke Agen yang menempatkan saya dan sayapun di pindahkan lagi. Di tempat kerja yang baru saya menjadi pelayanan restoran dan juga sebagai pekerja serabutan di rumah majikan.
Suatu hari saya diminta untuk mencuci pakaian yang sudah disiapkan oleh majikanku. Saya tidak tahu bahwa di saku celana majikan  masih ada handphone, saya merendamnya. Saya baru tahu setelah saya mengucaknya.  Saya menjadi sangat ketakutan karena saya sudah bisa membayangkan sikap majikan terhadap saya nantinya. Dalam hati saya katakan bahwa ini semua adalah resiko dari pekerjaan. Saya harus secepatnya memberitahukan persoalan ini kepada majikan agar rasa takut itu tidak berkepanjangan. Saya sudah siap atas semua resiko yang akan saya terima. Majikanku memukulku dengan tangan kosong dan  juga dengan apa saja yang bisa dia gunakan. Kepalaku berdarah tapi tetap saja tidak ada belas kasihan dari majikanku.  Kalau sebelumnya saya pindah kerja setelah melaporkan kepada agen yang menempatkan saya, kali ini saya langsung mendatangi kantor agen dengan keinginan bulat untuk pulang.
Akhirnya, sampai juga saya di kampung asal, tetapi setelah sekian lama  saya merasa  bosan karena tidak punya pekerjaan. Dan kerinduan saya pada Ibu yang sekian lama di Surabaya pun mulai mengganggu, sampai saya memutuskan untuk mencarinya ke Surabaya dengan hanya berbekal sedikit informasi alamat.
Di Surabaya, saya tidak tahu apa yang ibu kerjakan, namun dari bisik-bisik tetangga, katanya ibu berprofesi sebagai pekerja seks? Saya sangat terkejut. Sebenarnya saya sudah bisa menebak pekerjaan yang dijalani ibu selama ini. Ibuku tinggal di lokalisasi. Yang saya inginkan dari ibu adalah ibu mengatakan yang sesungguhnya. Saya tidak mau semua informasi saya dapatkan dari orang lain. Setiap ibu pulang dari tempat kerja, ibu selalu memberikan nasihat kepadaku tentang hal-hal yang berkaitan dengan moral dan iman. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ibu menasehatiku adalah sebagai cara untuk menutupi kedoknya. Saya mulai tidak mendengarkan nasihat ibu. Saya katakan saya bosan akan ceramah-ceramah ibu.
Tinggal di lokalisasi, godaannya sangat besar bagi anak desa seperti saya. Semua tawaran menggiurkan. Namun saya tetap berusaha untuk mempertahankan diri dari godaan itu. Saya memilih  berkerja di luar lokalisasi. Saya seakan tidak percaya ketika suatu hari, laki-laki yang menjadi tetangga saya di lokalisasi datang di tempatku, sebut saja namanya Toni. Dia menawarkan banyak hal dan mengatakan dia mencintaiku. Kalau pada pertemuan pertama kedua dan ketiga saya selalu menolaknya secara halus, namun pada pertemuan-pertemuan berikutnya saya mulai bisa menerimanya. Saya tidak keberatan ketika dia mengajak saya jalan-jalan keliling kota dengan sepeda motornya. Jujur saja saya menyukainya, tapi saya tidak mau kalau kami sampai melakukan hubungan seks karena saya sudah menutup diri, mengubur masa lalu saya dengan cara saya sendiri. Menjauhi laki-laki dan mencari kesibukan.
Laki-laki ini sangat tangguh merayu dan menyeretku dalam permainannya. Setelah berkali-kali dia merayu dan berjanji akan menikahi, saya pun menyerah. Dia mengatakan kalau saya sudah tidak  virgin, sehingga dia tidak mau menikahiku. Hal yang lebih menyakitkan hatiku adalah dia mengumumkan kepada semua teman-temannya yang juga pernah mengenal saya bahwa saya bisa diajak bermain cinta. Setiap hari teman-temannya datang silih berganti mengajakku. Karena takut aibku terbongkar, saya pun berhenti bekerja. Saya kembai ke tempat tinggal ibuku. Di tempat ini teman-temannya mengatakan terus terang niat mereka. Mereka mengancam akan memberitahukan hubunganku dengan Tony kepada semua orang kalau saya menolak ajakan mereka. Kepada salah satu teman Tony, saya katakan bahwa saya hanya mau keluar dengan dia sekali saja tapi tidak untuk macam-macam. Laki-laki itu menyanggupinya. Kenyataannya menjadi lain,  acara makan malam yang dijanjikan gagal. Di rumah makan sudah ada lima orang anak muda yang menanti kedatangan kami. Saya dipaksa minum alkohol sampai mabok. Malam itu saya tidak tahu lagi berapa orang yang menyentuh tubuhku, menjadikan diriku sebagai obyek seksual. Aku menangis memohon ampunan Tuhan agar menjauhkan aku dari cobaan. Aku ingin berdiri lebih tegak untuk  melumpuhkan tatapan liar Tony dan laki-laki yang telah menggoreskan luka lama dihatiku.

Seperti yang diceritakan pada Joris Lato

No comments:

Post a Comment