Panggil saja namaku Rini, saya dilahirkan di sebuah
desa kecil di Jawa Timur. Kami empat bersaudara yang semuanya perempuan. Saya
anak ketiga. Setelah ibu melahirkan adik yang terakhir, kedua orangtuaku cerai.
Bapakku
menikah lagi sedangkan ibu pergi mencari kerja di Surabaya. Kami berempat
tinggal bersama nenek di desa. Seperti kebanyakan anak perempuan di desa saya,
mereka cenderung lebih dekat dengan Bapaknya,
demikian juga saya, saya selalu ingin dekat dengan Bapak namun Bapak terus
menghindari untuk bertemu dengan saya dan juga kakak serta adik saya.
Setelah kehilangan sosok Bapak
dalam rumah, saya menjadi gampang untuk didekati laki-laki yang lebih tua.
Ketika usia sepuluh tahun, saya didekati seorang laki-laki yang seumur
dengan Bapakku tetapi dia tidak menikah. Bujang lapuk tersebut selalu memberiku
uang jajan untuk sekolah. Saya sangat menikmati kedekatan itu, karena di saat
saudara-saudaraku yang lain tidak mendapatkan makanan atau uang, saya masih
bisa membeli jajan dan makanan. Di luar pikiranku ternyata laki-laki yang
setiap hari memberiku makanan dan uang jajan menghendaki sesuatu dariku.
Suatu hari kami bertemu di
ladang, seperti biasa dia memanggilku, saya menuruti saja ketika dia mengajakku
ke gubuk. Di tempat sepi, jauh dari kampung dan orang-orang dia menanggalkan
pakaianku, meraba seluruh tubuhku. Saya tidak mengerti apa yang dia
kehendaki, saya ingin menolak tapi
karena saya tahu bahwa dia adalah orang baik, saya mengurungkan niat untuk
menepis tangannya. Pikiranku saat itu mungkin dia mau memijit atau memeriksa
tubuhku dari sesuatu yang menyerangku sehingga saya tetap saja diam walau
semua anggota tubuhku sudah dijelajahinya. Bukan hanya sekali, tapi setiap kali kami
bertemu kapan dan dimana pun dia selalu melakukan hal yang sama terhadap
diriku.
Apabila ada anak-anak yang sebaya
denganku berjalan bersamaku, lelaki itu
selalu minta bantuan teman-temanku untuk menjaga pintu. Sebaliknya kalau
laki-laki tersebut sedang berduaan di dalam rumahnya dengan anak-anak sebaya
saya, kami diminta untuk menjaga pintu rumahnya, menghalang-halangi orang yang
hendak masuk. Sebagai upah-nya, kami semua baik yang ada di dalam ruangan maupun yang menjaga pintu, akan mendapatkan uang jajan. Saya mengetahui kalau perbuatannya sebagai perbuatan seksual
setelah mendengar pembicaraan teman-teman laki-laki satu sekolah yang lebih tua dari saya. Walau
saya sudah tahu bahwa perbuatan laki-laki tersebut kepada saya dan teman-teman
saya itu salah dan seharusnya tidak
boleh dilakukan, saya dan teman-teman tetap saja mau melakukannya. Saya merasa
diuntungkan, saya mendapatkan makanan dan uang secara cuma-cuma. Sayapun mulai
bisa menikmati perlakuannya. Perlakuan
bujang lapuk terhadap saya selama tiga tahun, sejak saya belum mengenal
seks sampai saya merasa ketagihan untuk mengulanginya lagi.
Lulus sekolah dasar saya ditawari
oleh tetangga desa saya untuk menjadi tenaga kerja wanita di Malaysia. Untuk memudahkan proses
pengurusan administrasi, usiaku dinaikkan menjadi 17 tahun. Saya mendapat
kontrak kerja sebagai pembantu rumah tangga selama tiga tahun. Beratnya
pekerjaan dan kasarnya sikap majikan membuat saya tidak betah untuk bekerja.
Saya kembali ke Agen yang menempatkan saya dan sayapun di pindahkan lagi. Di tempat
kerja yang baru saya menjadi pelayanan restoran dan juga sebagai pekerja
serabutan di rumah majikan.
Suatu hari saya diminta untuk
mencuci pakaian yang sudah disiapkan oleh majikanku. Saya tidak tahu bahwa di
saku celana majikan masih ada handphone,
saya merendamnya. Saya baru tahu setelah saya mengucaknya.
Saya menjadi sangat ketakutan karena saya sudah bisa membayangkan sikap
majikan terhadap saya nantinya. Dalam hati saya katakan bahwa ini semua adalah resiko
dari pekerjaan. Saya harus secepatnya memberitahukan persoalan ini kepada
majikan agar rasa takut itu tidak berkepanjangan. Saya sudah siap atas semua
resiko yang akan saya terima. Majikanku memukulku dengan tangan kosong dan juga dengan apa saja yang bisa dia gunakan. Kepalaku berdarah tapi
tetap saja tidak ada belas kasihan dari majikanku. Kalau sebelumnya saya pindah kerja setelah
melaporkan kepada agen yang menempatkan saya, kali ini saya langsung mendatangi
kantor agen dengan keinginan bulat untuk pulang.
Akhirnya, sampai juga saya di
kampung asal, tetapi setelah sekian lama saya merasa
bosan karena tidak punya pekerjaan. Dan kerinduan saya pada Ibu yang
sekian lama di Surabaya pun mulai mengganggu, sampai saya memutuskan untuk
mencarinya ke Surabaya dengan hanya berbekal sedikit informasi alamat.
Di Surabaya, saya tidak tahu apa
yang ibu kerjakan, namun dari bisik-bisik tetangga, katanya ibu berprofesi
sebagai pekerja seks? Saya sangat terkejut. Sebenarnya saya sudah bisa menebak
pekerjaan yang dijalani ibu selama ini. Ibuku tinggal di lokalisasi. Yang saya
inginkan dari ibu adalah ibu mengatakan yang sesungguhnya. Saya tidak mau semua
informasi saya dapatkan dari orang lain. Setiap ibu pulang dari tempat kerja,
ibu selalu memberikan nasihat kepadaku tentang hal-hal yang berkaitan dengan
moral dan iman. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ibu menasehatiku adalah
sebagai cara untuk menutupi kedoknya. Saya mulai tidak mendengarkan nasihat
ibu. Saya katakan saya bosan akan ceramah-ceramah ibu.
Tinggal di lokalisasi, godaannya
sangat besar bagi anak desa seperti saya. Semua tawaran menggiurkan. Namun saya
tetap berusaha untuk mempertahankan diri dari godaan itu. Saya memilih berkerja di luar lokalisasi. Saya seakan tidak
percaya ketika suatu hari, laki-laki yang menjadi tetangga saya di lokalisasi datang
di tempatku, sebut saja namanya Toni. Dia menawarkan banyak hal dan mengatakan
dia mencintaiku. Kalau pada pertemuan pertama kedua dan ketiga saya selalu
menolaknya secara halus, namun pada pertemuan-pertemuan berikutnya saya mulai
bisa menerimanya. Saya tidak keberatan ketika dia mengajak saya jalan-jalan keliling
kota dengan sepeda motornya. Jujur saja saya menyukainya, tapi saya tidak mau
kalau kami sampai melakukan hubungan seks karena saya sudah menutup diri,
mengubur masa lalu saya dengan cara saya sendiri. Menjauhi laki-laki dan
mencari kesibukan.
Laki-laki ini sangat tangguh
merayu dan menyeretku dalam permainannya. Setelah berkali-kali dia merayu
dan berjanji akan menikahi, saya pun menyerah. Dia mengatakan kalau saya sudah
tidak virgin, sehingga dia tidak mau
menikahiku. Hal yang lebih menyakitkan hatiku adalah dia mengumumkan kepada
semua teman-temannya yang juga pernah mengenal saya bahwa saya bisa diajak
bermain cinta. Setiap hari teman-temannya datang silih berganti mengajakku.
Karena takut aibku terbongkar, saya pun berhenti bekerja. Saya kembai ke tempat
tinggal ibuku. Di tempat ini teman-temannya mengatakan terus terang niat mereka. Mereka
mengancam akan memberitahukan hubunganku dengan Tony kepada semua orang kalau saya menolak ajakan mereka. Kepada
salah satu teman Tony, saya
katakan bahwa saya hanya mau keluar dengan dia sekali saja tapi tidak untuk
macam-macam. Laki-laki itu menyanggupinya. Kenyataannya menjadi lain, acara makan malam yang dijanjikan gagal. Di
rumah makan sudah ada lima orang anak muda yang menanti kedatangan kami. Saya
dipaksa minum alkohol sampai mabok. Malam itu saya tidak tahu lagi berapa orang
yang menyentuh tubuhku, menjadikan diriku sebagai obyek seksual. Aku menangis
memohon ampunan Tuhan agar menjauhkan aku dari cobaan. Aku ingin berdiri lebih
tegak untuk melumpuhkan tatapan liar Tony
dan laki-laki yang telah menggoreskan luka lama dihatiku.
Seperti yang diceritakan pada Joris Lato
No comments:
Post a Comment