Saturday, 23 August 2014

Pengakuan seorang gadis kecil yang di jual oleh sahabatnya



Nama saya Dita. Saya lahir di Surabaya. Sebagai anak pertama, kedua orangtuaku sangat menyayangiku. Namun karena bapak tidak mempunyai pekerjaaan tetap, saya terpaksa dititipkan pada  nenek di sebuah desa kecil. Lulus Sekolah Dasar saya kembali lagi ke Surabaya untuk meneruskan SMP.  Pola hidup di desa membangun watakku untuk selalu bersikap ramah terhadap orang yang saya temui, termasuk terhadap teman- teman sebayaku. Sikapku yang ramah dan santun terhadap semua orang membuatku menjadi banyak teman.
Sejak duduk di kelas I SMP, saya sudah mempunyai teman dekat di kelas III, sebut saja namanya Dewi. Dia sangat baik, semua yang dia miliki sering dia bagikan pada saya sekalipun saya tidak menghendakinya. Saya sudah menganggapnya sebagai kakakku sehingga kalau dia mengajak kemana pun, saya pasti mau. Suatu hari sepulang sekolah, dia mengajakku untuk jalan-jalan keliling kota naik mobil. Dia mengatakan padaku bahwa yang punya mobil adalah pamannya dan saya pun percaya. Saya tidak menaruh curiga ketika mobil mengarah keluar kota dan pada saat itu juga dia katakan kalau dia harus menemui saudaranya yang ada diluar kota.
Di kota kecil dengan udara sejuk kami berhenti di sebuah villa. Dewi meminta masuk dan mandi sebentar karena akan diajak makan. Saya menuruti saja permintaannya. Awalnya saya agak bingung karena kamar mandi yang ditunjuk tidak ada pintunya tetapi hanya ditutupi gorden tipis dari bahan plastik tembus pandang. Namun karena saya tahu kalau yang ada di kamar hanya kami berdua, saya pun melepaskan pakaian dan mandi. Tanpa sepengetahuanku pintu kamar kami di buka dari luar. Laki-kali yang tadinya mengaku sebagai pamannya Dewi, menyingkap gorden merangkulku sekenanya. Sementara itu saya terus meronta memanggil Dewi, namun dia diam saja.
Lolos dari kamar mandi, saya lari ke kamar tidur mendekati Dewi namun sebaliknya, dia diam  dan berusaha menghindari pelukanku. Saya gemetar ketakutan tapi tangan kasar laki-laki tersebut menangkapku dan menyeretku ke atas  kasur. Laki-laki itu memaksaku, menindih tubuhku. Saya berteriak sambil terus berusaha menutupi bagian tubuhku dengan dengan bantal, namun sia-sia juga karena laki-laki itu lebih sigap dan tenaganya amat kuat. Usai melampiaskan keinginannya, laki-laki itu mengucapkan terimakasi kepadaku dan juga pada Dewi temanku.
Saya menangis dan mengatakan kalau saya akan melaporkan kejadian tersebut kepada kedua orangtuaku. Dengan enteng Dewi mengatakan tidak apa-apa, dan dia juga akan menceritakannya juga pada teman-teman satu sekolah dan juga kepada guru. Lalu dia balik bertanya pada saya, kalau semua orang sudah tahu, siapa yang akan menanggung malu? Saya terkejut karena rencana saya malah menjadi bumerang bagi saya sendiri. Saya menangis sejadi-jadinya tapi mereka tidak mempedulikanku.
Karena hari sudah sore, saya minta supaya pulang, namun keduanya tidak mempedulikanku. Malam itu saya tidak bisa tidur selain karena sakit, saya pun jijik melihat laki-laki perilaku seksual yang mereka perlihatkan pada saya. Pagi-pagi sekali kami sudah pulang ke Surabaya dengan merasa tidak punya beban, laki-laki itu mengatarkan kami ke sekolah. Saya tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik karena konsentrasiku terganggu memikirkan kejadian yang telah menimpahku. Di rumah kedua orangtuaku gelisah menunggu kedatanganku.
Pada orangtua , saya katakan ada tugas belajar kelompok, maunya pulang tapi karena sudah malam dan tidak ada ongkos pulang, terpaksa saya menginap di rumah temanku. Kedua orangtuaku memarahiku dan mengatakan akan mengeluarkan dari sekolah kalau saya melakukan hal yang sama lagi. Rasa sakit dan sedih tidak saya perlihatkan pada kedua orangtuaku. Saya berusaha untuk tampil sewajarnya. Kepada ibu saya katakan kalau saya mengalami menstruasi, ibuku  tertawa ketika melihat saya kelihatan gelisah.
Di sekolah saya menjadi pemurung, menjauhi teman-teman yang dulunya adalah sangat akrab. Sekuat tenaga saya berusaha menghindari pertemuan dengan Dewi, namun dia tetap saja mendekatiku. Dia mengancamku dengan mengatakan kalau saya tetap menghindar untuk bertemu dengannya dia akan menceritakan pada semua orang bahwa saya pernah bermain cinta. Kepada kedua orangtuaku saya katakan niat saya untuk pindah sekolah namun orangtuaku melarang dengan berbagai alasan. Saya tetap sekolah di sekolah yang sama dengan Dewi.
Takut akan ancamannya, saya pun harus menerima ajakan-ajakan berikutnya. Kalau sebelumnya dia mengenalkan laki-laki yang membawa kami sebagai pamannya, kini dia sudah mengatakan terus terang. Laki-laki yang mengajak kami adalah orang yang sudah memberikan sejumlah uang kepadanya. Saya dijual kepada  laki-laki  satu ke laki-laki lainnya. Pada saat ujian akhir saya berdoa semoga dia lulus namun ternyata dia tidak lulus. Dia sudah berani datang kerumahku bila ada laki-laki yang menghendakiku. Setiap ada uang dari laki-laki yang memaksaku bercinta dibagi dua setelah dipotong pengeluaran makan dan transport.
Di usia tujuh belas tahun, saya hamil sehingga saya harus berhenti sekolah. Berbeda dengan sebelumnya, setelah dia tahu saya hamil dia sudah tidak pernah datang lagi. Karena malu dengan orang sekampung saya diminta menikah dengan laki-laki sudah menjadi langganan saya. Pekawinan kami hanya bertahan 3 bulan karena setelah anakku lahir, laki-laki itu sudah tidak pernah datang lagi.

Seperti yang diceritakan kepada Joris Lato



1 comment:

  1. Saya yakin Dita dapat kembali menjelang masa depannya dengan baik, Salam Perjuangan Abang.

    ReplyDelete