Salah satu alasan mengapa seorang istri lebih cepat stress dibandingkan dengan suaminya? jawabannya baru saya tahu setelah saya bertemu dengan 76 orang wanita pekerja seks yang gagal dalam perkawinan. lebih dari 70% mereka mengatakan kepada saya; mereka lebih dahulu mengetahui persoalan keuangan keluarganya. Sebagai contoh misalnya, belum melunasi tunggakan uang sekolah anaknya, belum membayar tagihan listrik, persediaan beras di dapur sudah hampir habis, beberapa item bumbu masak habis, dan masih banyak lagi hutang yang harus dilunasi. Selain kegelisahan akan persoalan di atas, mereka harus melakukan pekerjaan yang monoton, rutin dan tidak pernah ada anggota keluarga lainnya yang mau melakukannya. Menurut bapak-bapak apakah pernyataan ini bisa dibenarkan?
The Picture of My thoughts about Children and Women that I meet in my served.
Sunday, 31 August 2014
Friday, 29 August 2014
"SEX" BIARKAN ANAK-ANAKMU BERTANYA PADAMU
Seorang ibu setengah baya datang di tempat saya bekerja. Dia menceritakan kalau anak gadisnya yang baru kelas dua, sekolah menengah pertama mengalami kekerasan seksual. Sekarang usia kehamilannya sudah lebih dari tujuh bulan. pelakunya adalah teman satu kelas. usia mereka masih sama - sama tiga belas tahun.
"Saya tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk putri saya. saya tidak memeriksakannya di dokter atau bidan karena saya malu. Sejak perutnya mulai kelihatan membesar, dia sudah tidak mau ke sekolah lagi dan juga tidak pernah keluar rumah. saya susah, saya kasihan pada anak saya namun saya tidak tahu harus melakukan apa? "
***
Setelah semua cerita tentang anak ini saya dapatkan dari sang ibu, saya pun mencoba menanyakan relasi mereka (ibu dan anak) selama ini. jawaban yang saya dapatkan, selama ini anak lebih banyak sendirian di rumah, bapak ibunya bekerja. pertemuan dengan anaknya dalam sehari tidak lebih dari tiga jam. ibunya baru mengetahui anaknya hamil setelah usia kehamilan anaknya enam bulan.
Ketika saya mencoba melebarkan pertanyaan, tentang pengetahuan kesehatan kesehatan reproduksi anaknya? jawabannya adalah hampir sama dengan ibu-ibu lain yang mempunyai persoalan sama.
Orangtua, mengatakan mereka merasa risih, tidak punya keberanian untuk bicara masalah seks kepada anak-anaknya. tabu! hal-hal yang paling sering dilakukan orangtua terhadap anak-anak adalah menasehati agar anaknya tidak berpacaran secara berlebihan. Orangtua tidak pernah memberikan penjelasan apakah artinya pacaran secara berlebihan itu? Orangtua menutup diri untuk berbicara masalah seks. seakan seks hanyalah milik orangtua. Orang yang sudah menikah? lalu bagaimana dengan anak-anak yang telah mengalami akil balik? tahukah kita bahwa ketika anak mengalami masa puber, tubuh manusia menjadi sangat sensitif, mudah terangsang secara seksual? pada masa ini anak-anak mulai mencari perhatian pada lawan jenisnya? anak-anak mulai mencoba sesuatu yang baru? menjawab dengan caranya sendiri tentang apa yang sedang terjadi pada tubuhnya, atau mencoba berguru pada sahabat-sahabatnya yang dianggap lebih tahu persoalan seks? ataukah mereka akan mencari dan membaca buku-buku atau melihat film-film porno? pada titik ini, peran orangtua sudah digantikan oleh orang lain, oleh buku-buku porno atau film-film porno. Anak mulai betah berada di luar rumah. Anak-anak sudah dikendalikan oleh teman-temannya, Anak bisa saja melakukan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan. Anak-anak kita akan mengalami masalah lalu kita akan menghakimi mereka, memberikan stigma pada mereka. Kita lupa bahwa seks adalah milik semua orang dan kita ada karena hasil dari kegiatan seksual.
MATINYA HATI PEREMPUAN-PEREMPUAN BERHASIL
Aku sudah menjelajahi negeri ini
Aku menemukan berjuta perempuan yang berhasil
Mereka menjadi politikus
Mereka menjadi Mentri
Mereka menjadi istri-
istri pejabat tinggi
Mereka menjadi akademisi
Mereka menjadi aktivis
Mereka menjadi Pegawai negri sipil
Mereka menjadi Pegawai atau pun buruh pabrik
Mereka berkedudukan tinggi!
Aku sudah menjelajahi negeri
ini
Aku sudah mengintip semua situs media online dari dalam sampai di luar negeri
Laki-laki dan perempuan berhasil
mengakomodir dan mengadvokasi
Menggiring dan menstimulir
perempuan untuk menjadi gundik-gundik, bagi mereka yang lebih birahi
Melakukan traffiking dan eksploitasi
Supaya perempuan bisa menjadi pekerja seks kelas tinggi atau pun kelas teri
Supaya perempuan bisa menjadi bintang pornografi dan porno
aksi
Supaya perempuan kehilangan harga diri
Perempuan ini resah karena sakit
Akan tetapi, tahukah engkau perempuan berkedudukan tinggi dan
berhasil tentang situasi ini?
Joris Lato
English Version
English Version
Dying HEARTS of SUCCESSFUL WOMEN
I've been exploring this country
I found millions of women who successfully
They become politicians
They became Minister
They become the wives of high officials
They become academics
They became activists
They became civil servants country
They became servants or factory workers
Those in high places!
I've been exploring this country
I had a peek at all of the sites online media to overseas
Men and women succeed
accommodate and advocate
Dribbling and stimulate women to become concubines, for those who desire more
Doing trafficking and exploitation
So that women can be a high-class prostitution or petty
So that women can be porn stars and porn action
In order for women to lose self-esteem
This woman was troubled by pain
However, do you know and successful women noble about this situation?
I've been exploring this country
I found millions of women who successfully
They become politicians
They became Minister
They become the wives of high officials
They become academics
They became activists
They became civil servants country
They became servants or factory workers
Those in high places!
I've been exploring this country
I had a peek at all of the sites online media to overseas
Men and women succeed
accommodate and advocate
Dribbling and stimulate women to become concubines, for those who desire more
Doing trafficking and exploitation
So that women can be a high-class prostitution or petty
So that women can be porn stars and porn action
In order for women to lose self-esteem
This woman was troubled by pain
However, do you know and successful women noble about this situation?
Thursday, 28 August 2014
Wednesday, 27 August 2014
Istriku adalah isnpirasi dan sumber kekuatanku
Sebelum
menikah, saya merasa bisa melakukan sendiri semua yang saya mimpikan. Saya tidak membutuhkan campur tangan orang
lain karena bagi saya pada saat itu, saya
adalah sumber kekuatan. Untuk itu saya tidak merasa terlalu memerlukan usulan, bantuan dari orang,
karena saya takut konsentrasiku menjadi
buyar sehingga pada akhirnya saya tidak mampu merealisasikan angan-angan
saya menjadi sebuah karya nyata.
Pemikiran
atau anggapan ini perlahan-lahan hilang setelah saya bertemu dengan perempuan
yang saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan saya. Menjadi istri saya dan ibu dari anak-anak
saya. Dia dengan cepat mengajarkan pada saya tentang arti pengorbanan dan cinta yang sesungguhnya. Dia tidak pernah
mengeluhkan ketika melakukan pekerjaan yang sangat menjenuhkan. Dia menjadi
embun penyejuk hatiku dan anak-kami, menjadi teladan bagi anak-anak kami dengan berhati berlapiskan emas. Ah, istriku, engkau
terlampau sempurna di mataku!
Setiap
Jam 05.00 pagi dia sudah bangun dari tidurnya dan mulai melakukan pekerjaan
seperti; membenahi tempat tidur, menyapu lantai, mengepel, mencuci piring,
membuatkan kopi dan sarapan buat saya dan anak-anak kami.
Selanjutnya
dia mulai menyiapkan pakaian dan buku-buku untuk anak kami yang akan berangkat
sekolah, membuka garasi untuk kemudian menghidupkan kendaraan, menuntun
anak-anak kami kepada saya yang tengah asyik menikmati kopi dan membaca Koran pagi
agar anak anaknya mendapatkan berkat dari saya. Usai mengantarkan anak-anak
sekolah istriku tidak langsung pulang ke rumah namun harus mampir di pasar
untuk membeli menu bahan makan sesuai dengan pesanan anak-anaknya. Dia tidak
pernah berpikir untuk membeli makanan sesuai dengan seleranya sendiri, karena
yang dia inginkan adalah kenikmatan yang dirasakan anak-anaknya dan juga saya
pada saat kami semua menyantapnya.
***
Saya
mampu mempersiapkan semua barang-barang
kebutuhan yang berkaitan dengan pekerjaaan saya di kantor nantinya untuk itu saya merasa tidak membutuhkan bantuan
istri saya lagi, namun demikian istriku tetap bersama saya mempersiapkan barang-barang kebutuhan atau pun
pakaian yang pantas untuk saya kenakan. Saya
sudah siap di samping kendaraan, saya akan pergi dan di saat itu juga, istriku
akan berdiri di sampingku, mencium tanganku sebelum saya benar-benar pergi
bekerja!
Selama
lebih dari delapan jam saya berada di luar rumah, istriku akan terus melanjutkan
pekerjaannya. Mulai dari menyeterika pakaian, memasak dan kemudian menjemput
anak-anak kami dari sekolah. Ketika anak-anak sudah rumah, berkumpul semuanya artinya barang barang yang
sudah ditata secara rapi akan berserakan seketika. Dalam situasi seperti ini
sudah tentu istriku mulai mengajarkan anak-anaknya untuk bekerja, bertanggung
jawab terhadap perbuatan mereka. Anak-anak menolak, menghindari untuk merapikan
kembali barang yang sudah mereka porak-porandakan ini artinya istriku harus
dengan sangat sabar menjelaskan dan bekerja bersama dengan anak-anak.
Istriku
lelah secara fisik atau psikis? Itu sudah tentu namun sebagai ibu dari anak-anak, dia akan tetap membimbing anak-anaknya, membantu anak-anak
dalam menyelesaikan persoalan.
***
Sore
hari hari ketika saya pulang kerja, istriku akan berdiri di depan pintu
menyambut kedatanganku, melepaskan bajuku dan membimbingku ke meja makan agar
saya bisa menikmati secangkir teh yang sudah dia siapkan.
Matahari
sudah tenggelam, namun istriku masih mempunyai setumpuk pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dia akan sangat
senang duduk berdampingan dengan saya di meja makan, melayani makanan atau pun
minuman yang menjadi kebiasaan saya. Lepas dari meja makan, istriku akan
memanggil semua anak-anak kami, menanyakan kepada anak-anak apakah mereka
mempunyai tugas dari sekolah yang harus dikerjakan di rumah lalu mendampingi
anak- anak kami belajar. Ketika anak-anak sudah selesai belajar, istriku masih
harus mendampingi anak-anak kami di kamar tidur, mendongeng atau menyanyikan
lagu pengantar tidur bagi anak-anak kami. Pekerjaan istriku untuk anak-anak
kami sudah selesai namun keinginannya untuk menyenangkan hati saya, suaminya terus menyala sehingga dia mulai
mencerita kelucuan-kelucuan anak-anak kami, memberikan sentuhan lembut bagiku atau berbagi cerita apa saja yang membuat saya
merasa nyaman hingga mata ini terpejam.
Monday, 25 August 2014
Laki-laki penjual Istri
Larut malam di sebuah pemakaman umum di kota ini, ada gelak tawa dan keriangan getir keluar dari bibir berpoles gincu merah pudar - pasi. Aku berbagi senyum kepadamu dan juga sebayamu.
"Selamat malam mbak, apa kabar?" sapa lembutku menggiring tatapan perempuan berbaju biru muda mendarat lemah di wajahku. Mata kami beradu, saling periksa, dan ketika mataku berhenti di bagian perut perempuan di hadapanku, bibirku pun tak tahan untuk menanyakannya.
"Sudah berapa bulan mbak?" Sambil tangannya mengelus perutnya, perempuan itu berkata;
"sudah lebih dari tujuh bulan, hampir delapan."
"selama ini apakah sudah pernah ke dokter? atau ke bidan?" Dengan nada sendat sengau perempuan ini mengatakan bahwa dia belum pernah kedokter atau pun bidan!
Aku memalingkan wajah kepada seorang laki-laki berpostur tegap dan subur yang berdiri persis di sampingnya. Dan, seperti ada kesepakatan bathin antara aku dan perempuan ini, tatapan mata kami pun berhenti pada - Dodon - sahabat saya, teman satu lembaga.
"Ooooohhh, mas Dodon, kami sudah lama berkenalan pak! Mas Dodon ini yang selalu menasehati kami di sini agar selalu menjaga kesehatan. selain mas Dodon kami disini sering berkonsultasi pada mbak Rasti, gadis kecil, cantik tapi berani?" setelah menyebutkan nama Rasti, perempuan ini melemparkan pandangannya kepada semua orang yang ada di sekitarnya. Di pemakaman blok R. perempuan itu meletakan tatapannya.
"Itu pak, mbak Rasti, dia lagi berbicara dengan mbak Wiwik. Nah, itu pak, yang memegang kardus putih? kardus itu isi kondom pak."
Pembicaraan kami terhenti. Ada sepeda motor berhenti di depan kami dan laki-laki paruh baya bersama anak laki-laki yang masih usia sekolah dasar turun dari sepeda motor.
"Kenalkan pak ini suami saya, dan ini Rudy anak bungsu saya! maaf pak lain waktu kita ngobrol lagi, suamiku sudah menjemput." Dalam kebingungan aku pun menyodorkan tangan, kami bersalaman. Aku tersenyum tanpa arti kepada pemilik sepeda motor. Sesaat kemudian bapak, ibu dan anak sudah di atas sepeda motor, melaju hilang di balik pemakamanan.
Malam ini ada sejuta pertanyaan yang menghantui tidur malamku.
Surabaya, Agustus 2014
Sunday, 24 August 2014
Doa seorang gadis "Tuhan ini bukan kemauanku"
Panggil saja namaku Rini, saya dilahirkan di sebuah
desa kecil di Jawa Timur. Kami empat bersaudara yang semuanya perempuan. Saya
anak ketiga. Setelah ibu melahirkan adik yang terakhir, kedua orangtuaku cerai.
Bapakku
menikah lagi sedangkan ibu pergi mencari kerja di Surabaya. Kami berempat
tinggal bersama nenek di desa. Seperti kebanyakan anak perempuan di desa saya,
mereka cenderung lebih dekat dengan Bapaknya,
demikian juga saya, saya selalu ingin dekat dengan Bapak namun Bapak terus
menghindari untuk bertemu dengan saya dan juga kakak serta adik saya.
Setelah kehilangan sosok Bapak
dalam rumah, saya menjadi gampang untuk didekati laki-laki yang lebih tua.
Ketika usia sepuluh tahun, saya didekati seorang laki-laki yang seumur
dengan Bapakku tetapi dia tidak menikah. Bujang lapuk tersebut selalu memberiku
uang jajan untuk sekolah. Saya sangat menikmati kedekatan itu, karena di saat
saudara-saudaraku yang lain tidak mendapatkan makanan atau uang, saya masih
bisa membeli jajan dan makanan. Di luar pikiranku ternyata laki-laki yang
setiap hari memberiku makanan dan uang jajan menghendaki sesuatu dariku.
Suatu hari kami bertemu di
ladang, seperti biasa dia memanggilku, saya menuruti saja ketika dia mengajakku
ke gubuk. Di tempat sepi, jauh dari kampung dan orang-orang dia menanggalkan
pakaianku, meraba seluruh tubuhku. Saya tidak mengerti apa yang dia
kehendaki, saya ingin menolak tapi
karena saya tahu bahwa dia adalah orang baik, saya mengurungkan niat untuk
menepis tangannya. Pikiranku saat itu mungkin dia mau memijit atau memeriksa
tubuhku dari sesuatu yang menyerangku sehingga saya tetap saja diam walau
semua anggota tubuhku sudah dijelajahinya. Bukan hanya sekali, tapi setiap kali kami
bertemu kapan dan dimana pun dia selalu melakukan hal yang sama terhadap
diriku.
Apabila ada anak-anak yang sebaya
denganku berjalan bersamaku, lelaki itu
selalu minta bantuan teman-temanku untuk menjaga pintu. Sebaliknya kalau
laki-laki tersebut sedang berduaan di dalam rumahnya dengan anak-anak sebaya
saya, kami diminta untuk menjaga pintu rumahnya, menghalang-halangi orang yang
hendak masuk. Sebagai upah-nya, kami semua baik yang ada di dalam ruangan maupun yang menjaga pintu, akan mendapatkan uang jajan. Saya mengetahui kalau perbuatannya sebagai perbuatan seksual
setelah mendengar pembicaraan teman-teman laki-laki satu sekolah yang lebih tua dari saya. Walau
saya sudah tahu bahwa perbuatan laki-laki tersebut kepada saya dan teman-teman
saya itu salah dan seharusnya tidak
boleh dilakukan, saya dan teman-teman tetap saja mau melakukannya. Saya merasa
diuntungkan, saya mendapatkan makanan dan uang secara cuma-cuma. Sayapun mulai
bisa menikmati perlakuannya. Perlakuan
bujang lapuk terhadap saya selama tiga tahun, sejak saya belum mengenal
seks sampai saya merasa ketagihan untuk mengulanginya lagi.
Lulus sekolah dasar saya ditawari
oleh tetangga desa saya untuk menjadi tenaga kerja wanita di Malaysia. Untuk memudahkan proses
pengurusan administrasi, usiaku dinaikkan menjadi 17 tahun. Saya mendapat
kontrak kerja sebagai pembantu rumah tangga selama tiga tahun. Beratnya
pekerjaan dan kasarnya sikap majikan membuat saya tidak betah untuk bekerja.
Saya kembali ke Agen yang menempatkan saya dan sayapun di pindahkan lagi. Di tempat
kerja yang baru saya menjadi pelayanan restoran dan juga sebagai pekerja
serabutan di rumah majikan.
Suatu hari saya diminta untuk
mencuci pakaian yang sudah disiapkan oleh majikanku. Saya tidak tahu bahwa di
saku celana majikan masih ada handphone,
saya merendamnya. Saya baru tahu setelah saya mengucaknya.
Saya menjadi sangat ketakutan karena saya sudah bisa membayangkan sikap
majikan terhadap saya nantinya. Dalam hati saya katakan bahwa ini semua adalah resiko
dari pekerjaan. Saya harus secepatnya memberitahukan persoalan ini kepada
majikan agar rasa takut itu tidak berkepanjangan. Saya sudah siap atas semua
resiko yang akan saya terima. Majikanku memukulku dengan tangan kosong dan juga dengan apa saja yang bisa dia gunakan. Kepalaku berdarah tapi
tetap saja tidak ada belas kasihan dari majikanku. Kalau sebelumnya saya pindah kerja setelah
melaporkan kepada agen yang menempatkan saya, kali ini saya langsung mendatangi
kantor agen dengan keinginan bulat untuk pulang.
Akhirnya, sampai juga saya di
kampung asal, tetapi setelah sekian lama saya merasa
bosan karena tidak punya pekerjaan. Dan kerinduan saya pada Ibu yang
sekian lama di Surabaya pun mulai mengganggu, sampai saya memutuskan untuk
mencarinya ke Surabaya dengan hanya berbekal sedikit informasi alamat.
Di Surabaya, saya tidak tahu apa
yang ibu kerjakan, namun dari bisik-bisik tetangga, katanya ibu berprofesi
sebagai pekerja seks? Saya sangat terkejut. Sebenarnya saya sudah bisa menebak
pekerjaan yang dijalani ibu selama ini. Ibuku tinggal di lokalisasi. Yang saya
inginkan dari ibu adalah ibu mengatakan yang sesungguhnya. Saya tidak mau semua
informasi saya dapatkan dari orang lain. Setiap ibu pulang dari tempat kerja,
ibu selalu memberikan nasihat kepadaku tentang hal-hal yang berkaitan dengan
moral dan iman. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa ibu menasehatiku adalah
sebagai cara untuk menutupi kedoknya. Saya mulai tidak mendengarkan nasihat
ibu. Saya katakan saya bosan akan ceramah-ceramah ibu.
Tinggal di lokalisasi, godaannya
sangat besar bagi anak desa seperti saya. Semua tawaran menggiurkan. Namun saya
tetap berusaha untuk mempertahankan diri dari godaan itu. Saya memilih berkerja di luar lokalisasi. Saya seakan tidak
percaya ketika suatu hari, laki-laki yang menjadi tetangga saya di lokalisasi datang
di tempatku, sebut saja namanya Toni. Dia menawarkan banyak hal dan mengatakan
dia mencintaiku. Kalau pada pertemuan pertama kedua dan ketiga saya selalu
menolaknya secara halus, namun pada pertemuan-pertemuan berikutnya saya mulai
bisa menerimanya. Saya tidak keberatan ketika dia mengajak saya jalan-jalan keliling
kota dengan sepeda motornya. Jujur saja saya menyukainya, tapi saya tidak mau
kalau kami sampai melakukan hubungan seks karena saya sudah menutup diri,
mengubur masa lalu saya dengan cara saya sendiri. Menjauhi laki-laki dan
mencari kesibukan.
Laki-laki ini sangat tangguh
merayu dan menyeretku dalam permainannya. Setelah berkali-kali dia merayu
dan berjanji akan menikahi, saya pun menyerah. Dia mengatakan kalau saya sudah
tidak virgin, sehingga dia tidak mau
menikahiku. Hal yang lebih menyakitkan hatiku adalah dia mengumumkan kepada
semua teman-temannya yang juga pernah mengenal saya bahwa saya bisa diajak
bermain cinta. Setiap hari teman-temannya datang silih berganti mengajakku.
Karena takut aibku terbongkar, saya pun berhenti bekerja. Saya kembai ke tempat
tinggal ibuku. Di tempat ini teman-temannya mengatakan terus terang niat mereka. Mereka
mengancam akan memberitahukan hubunganku dengan Tony kepada semua orang kalau saya menolak ajakan mereka. Kepada
salah satu teman Tony, saya
katakan bahwa saya hanya mau keluar dengan dia sekali saja tapi tidak untuk
macam-macam. Laki-laki itu menyanggupinya. Kenyataannya menjadi lain, acara makan malam yang dijanjikan gagal. Di
rumah makan sudah ada lima orang anak muda yang menanti kedatangan kami. Saya
dipaksa minum alkohol sampai mabok. Malam itu saya tidak tahu lagi berapa orang
yang menyentuh tubuhku, menjadikan diriku sebagai obyek seksual. Aku menangis
memohon ampunan Tuhan agar menjauhkan aku dari cobaan. Aku ingin berdiri lebih
tegak untuk melumpuhkan tatapan liar Tony
dan laki-laki yang telah menggoreskan luka lama dihatiku.
Seperti yang diceritakan pada Joris Lato
Masa depan ada pada anak anak anda
Kita tidak pernah mampu meramalkan dengan tepat apa yang akan terjadi pada anak-anak. Mereka tumbuh dalam tekanan ataupun pujian dan harapan dari keluarga, masyarakat dan juga negara.
Satu hal yang pasti bahwa pada masanya kelak mereka yang akan menjadi pemilik dunia ini untuk mengatur dan melaksanakan roda kehidupan dunia.
Saturday, 23 August 2014
Pengakuan seorang gadis kecil yang di jual oleh sahabatnya
Nama saya Dita.
Saya lahir di Surabaya.
Sebagai anak pertama, kedua orangtuaku sangat menyayangiku. Namun karena bapak
tidak mempunyai pekerjaaan tetap, saya terpaksa dititipkan pada nenek di sebuah desa kecil. Lulus Sekolah
Dasar saya kembali lagi ke Surabaya
untuk meneruskan SMP. Pola hidup di desa
membangun watakku untuk selalu bersikap ramah terhadap orang yang saya temui,
termasuk terhadap teman- teman sebayaku. Sikapku yang ramah dan santun terhadap
semua orang membuatku menjadi banyak teman.
Sejak duduk di
kelas I SMP, saya sudah mempunyai teman dekat di kelas III, sebut saja namanya
Dewi. Dia sangat baik, semua yang dia miliki sering dia bagikan pada saya
sekalipun saya tidak menghendakinya. Saya sudah menganggapnya sebagai kakakku
sehingga kalau dia mengajak kemana pun, saya pasti mau. Suatu hari sepulang sekolah, dia mengajakku untuk
jalan-jalan keliling kota naik mobil. Dia mengatakan padaku bahwa yang punya
mobil adalah pamannya dan saya pun percaya. Saya tidak menaruh curiga ketika
mobil mengarah keluar kota dan pada saat itu juga dia katakan kalau dia harus
menemui saudaranya yang ada diluar kota.
Di kota kecil dengan udara sejuk kami berhenti di
sebuah villa. Dewi meminta masuk dan mandi sebentar karena akan diajak makan.
Saya menuruti saja permintaannya. Awalnya saya agak bingung karena kamar mandi
yang ditunjuk tidak ada pintunya tetapi hanya ditutupi gorden tipis dari bahan
plastik tembus pandang. Namun karena saya tahu kalau yang ada di kamar hanya
kami berdua, saya pun melepaskan pakaian dan mandi. Tanpa sepengetahuanku pintu
kamar kami di buka dari luar. Laki-kali yang tadinya mengaku sebagai pamannya Dewi,
menyingkap gorden merangkulku sekenanya. Sementara itu saya terus meronta
memanggil Dewi, namun dia diam saja.
Lolos dari kamar mandi, saya lari ke kamar tidur
mendekati Dewi namun sebaliknya, dia diam
dan berusaha menghindari pelukanku. Saya gemetar ketakutan tapi tangan
kasar laki-laki tersebut menangkapku dan menyeretku ke atas kasur. Laki-laki itu memaksaku, menindih
tubuhku. Saya berteriak sambil terus berusaha menutupi bagian tubuhku dengan
dengan bantal, namun sia-sia juga karena laki-laki itu lebih sigap dan
tenaganya amat kuat. Usai melampiaskan keinginannya, laki-laki itu mengucapkan
terimakasi kepadaku dan juga pada Dewi temanku.
Saya menangis dan mengatakan kalau saya akan
melaporkan kejadian tersebut kepada kedua orangtuaku. Dengan enteng Dewi
mengatakan tidak apa-apa, dan dia juga akan menceritakannya juga pada
teman-teman satu sekolah dan juga kepada guru. Lalu dia balik bertanya pada
saya, kalau semua orang sudah tahu, siapa yang akan menanggung malu? Saya
terkejut karena rencana saya malah menjadi bumerang bagi saya sendiri. Saya
menangis sejadi-jadinya tapi mereka tidak mempedulikanku.
Karena hari sudah sore, saya minta supaya pulang,
namun keduanya tidak mempedulikanku. Malam itu saya tidak bisa tidur selain
karena sakit, saya pun jijik melihat laki-laki perilaku seksual yang mereka
perlihatkan pada saya. Pagi-pagi sekali kami sudah pulang ke Surabaya dengan
merasa tidak punya beban, laki-laki itu mengatarkan kami ke sekolah. Saya tidak
bisa mengikuti pelajaran dengan baik karena konsentrasiku terganggu memikirkan
kejadian yang telah menimpahku. Di rumah kedua orangtuaku gelisah menunggu
kedatanganku.
Pada orangtua , saya katakan ada tugas belajar
kelompok, maunya pulang tapi karena sudah malam dan tidak ada ongkos pulang,
terpaksa saya menginap di rumah temanku. Kedua orangtuaku memarahiku dan
mengatakan akan mengeluarkan dari sekolah kalau saya melakukan hal yang sama
lagi. Rasa sakit dan sedih tidak saya perlihatkan pada kedua orangtuaku. Saya
berusaha untuk tampil sewajarnya. Kepada ibu saya katakan kalau saya mengalami
menstruasi, ibuku tertawa ketika melihat
saya kelihatan gelisah.
Di sekolah saya menjadi pemurung, menjauhi
teman-teman yang dulunya adalah sangat akrab. Sekuat tenaga saya berusaha
menghindari pertemuan dengan Dewi, namun dia tetap saja mendekatiku. Dia
mengancamku dengan mengatakan kalau saya tetap menghindar untuk bertemu
dengannya dia akan menceritakan pada semua orang bahwa saya pernah bermain cinta. Kepada kedua orangtuaku saya katakan niat saya untuk pindah
sekolah namun orangtuaku melarang dengan berbagai alasan. Saya tetap sekolah di
sekolah yang sama dengan Dewi.
Takut akan ancamannya, saya pun harus menerima
ajakan-ajakan berikutnya. Kalau sebelumnya dia mengenalkan laki-laki yang
membawa kami sebagai pamannya, kini dia sudah mengatakan terus terang.
Laki-laki yang mengajak kami adalah orang yang sudah memberikan sejumlah uang kepadanya.
Saya dijual kepada laki-laki satu ke laki-laki lainnya. Pada saat ujian
akhir saya berdoa semoga dia lulus namun ternyata dia tidak lulus. Dia sudah
berani datang kerumahku bila ada laki-laki yang menghendakiku. Setiap ada uang
dari laki-laki yang memaksaku bercinta dibagi dua setelah dipotong pengeluaran makan
dan transport.
Di usia tujuh belas tahun, saya hamil sehingga
saya harus berhenti sekolah. Berbeda dengan sebelumnya, setelah dia tahu saya
hamil dia sudah tidak pernah datang lagi. Karena malu dengan orang sekampung
saya diminta menikah dengan laki-laki sudah menjadi langganan saya. Pekawinan
kami hanya bertahan 3 bulan karena setelah anakku lahir, laki-laki itu sudah
tidak pernah datang lagi.
Seperti yang diceritakan kepada Joris Lato
Subscribe to:
Comments (Atom)